Pemulung Cilik yang dulu sebatang kara kini gembira ikut rekreasi

Jakarta, Dinas Sosial -- Pemulung cilik sebatang kara yang sempat menjadi viral di dunia maya, M. Nurseha (10) tersenyum gembira saat mengikuti rekreasi bersama teman-temannya di Panti Sosial Asuhan Anak Putra Utama 1 milik Dinas Sosial Provinsi DKI Jakarta.

 

Nurseha atau biasa dipanggil Otong, sebelum dirawat di panti ia tinggal di sebuah gubuk di Penggilingan Cakung, Jakarta Timur, sehari-hari menjadi memulung untuk menghidupi dirinya sendiri yang baru berumur sepuluh tahun.

 

Sedangkan ibunya telah meninggal dunia karena sakit jantung, sehingga ayahnya pun menikah lagi dengan orang lain, otong sendiri merupakan anak terakhir dari 4 bersaudara.

 

Setelah ibunya meninggal, dia tinggal di rumah neneknya, beberapa bulan kemudian, neneknya juga meninggal dunia, kondisi ini membuat Otong akhirnya hidup sebatang kara.

 

Namun, saat ini Otong tidak hidup sendiri lagi, bersama teman sebayanya, Otong ikut berekreasi ke Taman Buah Mekarsari, Bogor, Jawa Barat (24/11).

 

"Seneng bisa ikut naik perahu, main tanah liat, tanam tumbuhan," kata Otong.

 

Ia mengaku baru pertama kali datang ke Taman Buah, ia senang bisa bermain bersama teman-temannya.

 

Sementara itu, Kepala Panti Sosial Asuhan Anak Putra Utama 1, Marwiyanti mengemukakan rekreasi kali ini untuk mengenalkan Nurseha dan teman-temannya aneka tumbuhan.

 

"Mereka kami ajarkan menanam pohon yang baik, bermain tanah liat, kasih makan ikan, naik perahu naga dan melihat taman untuk mengenalkan nama tumbuhan, jadi di samping rekreasi mereka juga bisa belajar," ujar Marwiyanti.

 

Ia melanjutkan, dengan mengajak anak-anak ke Taman Buah, mereka akan mendapatkan pengalaman baru, pengetahuan dan pengalaman menurutnya harus ditanam sejak dini.

 

"Kebutuhan mereka kan nggak cuma makan, minum, pakaian, dan sekolah aja, mereka juga butuh rekreasi, mereka bisa bermain dan bergembira bersama teman-teman sebayanya, masa anak-anak adalah masa bermain," tandas Marwiyanti.

 

Saat ini, pihaknya mengajak 260 anak-anak binaan bersama 40 orang pendamping, anak-anak itu merupakan anak yang berasal dari anak telantar, tidak memiliki keluarga, dan anak dari keluarga miskin.